Apa Benar Harga Gas Impor Lebih Murah Dari Dalam Negeri?

Harga Gas Impor Lebih Murah Dari Dalam Negeri – Saat ini pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan untuk mengimpor gas alam cair (Liqufied Natural Gas/LNG) dari Singapura. Langkah impor tersebut dipertimbangkan karena Singapura menawarkan harga gas yang lebih murah dibandingkan dengan harga gas yang diproduksi di dalam negeri. baca: pph pasal 21

Adi Munandir selaku Head of Marketing and Product Development Division PT Perusahaan Gas Negara (PGN) mengatakan bahwa harga gas yang diimpor dari negara lain tidak lebih murah. Hal tersebut dikarenakan untuk sampai ke Indonesia, gas tersebut harus melalui sejumlah proses yang justru membuat harganya menjadi lebih mahal dibandingkan yang diproduksi di dalam negeri.

“Saat ini  harga gas yang paling murah berasal dari Amerika Serikat sekitar US$ 3 per MMBTU. Tetapi untuk sampai ke Indonesia apakah harganya masih murah?,” kata Adi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (10/9/2017).

baca: pengertian pajak

Adi mengungkapkan bahwa menurutnya angka US$ 3 itu baru harga di hulu. Gas yang dikirim ke negara lain masih membutuhkan proses liquefaction dengan biaya US$ 3 per MMBTU. Selanjutnya pengiriman dari Amerika Serikat (USA) untuk sampai ke Singapura membutuhkan biaya US$ 2,5 per MMBTU. Ditambah lagi dengan proses regasifikasi dengan biaya US$ 2 per MMBTU.

“Selanjutnya gas tersebut dikirim ke Lampung dan butuh proses transmisi dan distribusi sampai ke pelanggan yang kalau di total mencapai US$ 11,5 per MMBTU belum termasuk pajak-pajak. Jadi terkonfirmasi harganya lebih mahal dari domestik,” jelasnya.

‎Adi melanjutkan, bahkan dari data yang dihimpun di tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa harga gas di Indonesia masih di bawah rata-rata harga gas di kawasan Asia Pasifik sebesar US$ 12,5 per MMBTU. Bahkan di negara China harga gasnya lebih dari US$ 25 per MMBTU.

“Biaya transmisi dan distribusi di Indonesia juga lebih murah dibandingkan China dan Jepang. Tetapi memang biaya regasifikasi di Indonesia paling tinggi dari negara lain mencapai US$ 3,5 per MMBTU,” tambahnya.

baca: jasa konsultan pajak

Maka dari itu, gas yang diimpor dari negara lain tidak selalu lebih murah dari produksi dalam negeri ketika sudah sampai di Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah diminta untuk mempertimbangkan kembali kebijakan impor gas.

“Lalu apakah kalau impor gas, harganya otomatis lebih murah? ‎‎Kebijakan impor gas multidimensi dampaknya. Kalau impor gas tujuannya ingin mendapat harga gas lebih murah. Di Indonesia banyak sumbernya, harusnya lebih murah dari pada impor dan kebijakan gas domestik ada dipemerintah kendalinya,” tegasnya.

Sumber : liputan6.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *