Industri Rokok di Tanah Air Masih Membutuhkan Impor Tembakau

Tanah Air Masih Membutuhkan Impor Tembakau – Ternyata sampai saat ini industri rokok di Tanah Air masih membutuhkan impor tembakau yang mencapai 100.000 ton per tahun guna menutupi kekurangan pasokan secara domestik.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia, Hasan Aoni Aziz US menyampaikan bahwa sampai saat ini jumlah kebutuhan tembakau yang merupakan bahan baku utama rokok hampir menyentuh 300.000-340.000 ton per tahun. Adapun yang dapat diproduksi oleh lokal baru mencapai 200.000 ton per tahun.

baca: pph pasal 21

“Sebenarnya jumlah produksi nasional dapat berubah naik dan turun, hal ini terpengaruh dengan cuaca. Kendati demikian, yang pasti untuk saat ini industri rokok masih membutuhkan bahan baku impor,” ujar Hasan dalam keterangan resminya.

Para pelaku usaha sempat khawatir dengan regulasi larangan dan pembatasan (lartas) impor yang sedang dibahas oleh pemerintah. Hal tersebut dikarenkan salah satu komoditas utama yang mendapatkan lartas tersebut ialah tambakau.

Hasan mengatakan bahwa industri rokok Tanah Air telah menyerap sepenuhnya tembakau lokal. Namun untuk jenis rokok seperti mild dibutuhkan campuran tembakau berjenis virginia yang berguna untuk menekan jumlah nikotin.

baca: pengertian pajak

“Pertumbuhan rokok berjenis mild semakin meningkat, sedangkan tembakau jenis virginia tidak sepenuhnya bisa didapatkan dalam negeri. Tidak hanya itu, tembakau jenis oriental juga tidak diproduksi dalam negeri,” kata Hasan.

Hasan juga menambahkan bahwa tanaman tembakau sensitif dengan perubahan musim. Produksi dan kualitas tembakau akan menurun jika dihadapkan dengan cuaca hujan sepanjang tahun,. Hal ini membuat industri rokok harus mengimpor agar dapat berproduksi.

“Tidak seperti dengan industri lain yang bisa substitusi impor, komoditas rokok dirasa sulit. Setiap negara memiliki kandungan tanah yang berbeda sehingga menghasilkan nikotin yang berbeda juga. Jenis tembakau asli Indonesia adalah tembakau yang memiliki nikotin yang tinggi, sedangkan tren pasar saat ini adalah yang rendah nikotin” tambahnya.

Muhaimin Moefti  selaku Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia juga menyatakan bahwa rokok di Indonesia memiliki jenis yang berbeda dibandingkan dengan rokok luar negeri. Rokok di Indonesia berjenis kretek, yang setiap pabrikannya memiliki aroma khas yang berbeda.

Muhaimin mengungkapkan bahwa menurutnya kebijakan pemerintah harus dirumuskan secara berhati-hati sehingga tidak menghambat produksi rokok di Tanah Air. Apalagi jumlah pegawai industri rokok dari hulu sampai hlir mencapai lebih dari jutaan.

“Rokok kretek untuk mendapatkan aroma khas mesti dicampurkan dengan saus, cengkeh dan jenis tembakau yang berbeda. Pabrik menyesuaikan dengan keinginan konsumen, sehingga tidak mungkin mengganti cita rasa yang dimiliki oleh sebagian tembakau impor menggunakan tembakau lokal 100%,” ujar Muhaimin.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tembakau Indonesia pada bulan Januari 2017 hingga bulan Juli 2017 mencapai US$318,49 juta. training ekspor impor Jumlah tersebut naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$274,30 juta.

Sumber : bisnis.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *