Penerimaan Pajak Bulanan Menunjukkan Tren Penurunan

Realisasi penerimaan pajak secara bulanan menunjukkan tren penurunan. Dengan adanya kondisi seperti itu, pemerintah perlu menghitung dengan cermat pengelolaan fiskal menjelang akhir tahun 2017 ini. Secara garis besar performa penerimaan pajak pada beberapa bulan ini melemah dan dikhawatirkan akan membuat defisit semakin membengkak.

Dari data yang dihimpun Direktoral Jendral Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait selisih antara realisasi dan target (shortfall) penerimaan pajak secara bulanan menunjukkan bahwa pada bulan Maret dan April, realisasi penerimaan pajak lebih besar dari target bulanan.

Pada bulan Maret 2017 saja, penerimaan pajak tercatat Rp 90 triliun lebih besar dari target yang sebesar Rp 73,5 triliun. Sementara pada bulan April 2017, penerimaan pajak tercatat Rp 122,4 triliun lbih besar dari target yang sebesar Rp 114,7 triliun.

Namun, tren positif penerimaan pajak bulanan itu justru berbalik arah sejak Mei 2017. Sebab usai bulan itu realisasi penerimaan lebih rendah dari target. Pada bulan Mei, penerimaan pajak tercatat Rp 77 triliun lebih kecil dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 85 triliun.

Rendahnya penerimaan pajak ini berlanjut hingga bulan Agustus 2017 ini, yang hanya tercatat sebesar Rp 81,2 triliun lebih kecil dari targetnya yang sebesar Rp 107,5 triliun. Dengan relisasi tersebut, dari awal tahun sampai 31 Agustus 2017, realisasi penerimaan pajak baru mencapai Rp 685,6 triliun atau 53,5% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang sebesar Rp 1.283,57 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pola penerimaan pajak empat bulan terakhir akan naik seperti juga belanja negara. Dirinya mencatat, defisit anggaran pada periode akhir Agustus 2017 telah mencapai 1,65% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp 224,3 triliun. Defisit terjadi karena realisasi penerimaan pajak dan bea cukai hingga 31 Agustus 2017 baru Rp 780,03 triliun.

Yustinus Prastowo selaku Direktur Eksekutif Center for Indonesia (CITA) juga mengungkapkan bahwa target yang dipasang oleh DJP setiap bulannya terlalu tinggi. Seharusnya, hal ini bisa dikenali gejala dan tantangannya sejak awal. “ Jangan berulang seperti tahun 2015 begitu September ke depan bingung mencari penjelasan,” ujar Yustinus.

Sumber: Harian Kontan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *